Cara Klien Memilih Arsitek

Aditya Yuwana

4/30/20262 min read

Kalau saya lihat realitanya, secara umum ada tiga cara klien dalam memilih arsitek. Nggak selalu hitam-putih, tapi pola ini cukup sering kejadian. Kita bahas satu per satu.

Open Call

Biasanya terjadi di media sosial, "Lagi nyari arsitek untuk desain rumah. Drop portofolio kalian". Klien yang mencari arsitek dengan cara open call, biasanya belum terlalu peduli siapa arsiteknya, yang penting kebutuhan gambar mereka terpenuhi, dan affordable buat dia. Nah, dari situ masuk banyak pilihan. Lalu mereka akan mulai menyaring berdasarkan gaya desain yang dirasa cocok dan fee yang masih masuk anggaran mereka.

Tapi nggak jarang juga di tahap ini, akhirnya mereka belum jadi pakai siapa-siapa. Entah karena belum nemu yang pas dari desain atau fee, atau masih merasa semua opsi belum cukup meyakinkan. Ini bukan berarti mereka tidak menghargai arsitek, tapi lebih karena prioritas utama mereka masih di efisiensi biaya atau belum memahami proses desain secara utuh.

Berdasarkan Rekomendasi

Cara yang kedua, nyari arsitek berdasarkan rekomendasi orang terdekat. Mereka akan nanya ke teman atau saudaranya, "Punya rekomendasi arsitek nggak?". Dari situ, mereka dapat beberapa nama yang sudah pernah dipakai dan “terbukti” menurut circle-nya. Selanjutnya, mereka akan menghubungi si arsitek, memulai pembicaraan, meminta portfolio, dan diskusi awal tentang proyeknya.

Pendekatan ini punya kelebihan di sisi trust karena sudah ada validasi dari orang yang mereka kenal. Tapi tetap perlu dilihat lagi apakah gaya desain dan cara kerja arsiteknya memang cocok dengan kebutuhan mereka sekarang. Karena bisa jadi, meskipun cocok dengan kenalannya, tapi belum tentu gaya desain dan cara kerja arsiteknya cocok dengan dia.

Riset Mandiri

Sekarang cara ketiga, yaitu riset mandiri. Klien dengan cara ini biasanya nyari arsitek yang sesuai dengan preferensi pribadi mereka. Ini yang paling jarang, tapi biasanya paling spesifik. Mereka sudah punya gambaran gaya desain apa yang cocok buat mereka, kebutuhan mereka seperti apa, dan ingin hidup di rumah yang seperti apa. Mereka nggak hanya butuh gambar, tapi juga rumah yang paling cocok dengan cara hidup ideal yang mereka bayangkan. Dari situ mereka lakukan riset sendiri, siapa arsitek yang pantas buat mereka.

Biasanya mereka mulai dari melihat karya di media sosial atau website, bikin shortlist arsitek yang dirasa cocok, lalu menghubungi beberapa di antaranya. Pendekatannya lebih terarah, karena dari awal sudah ada preferensi yang jelas. Biasanya proses diskusinya juga lebih dalam, karena kedua belah pihak baik klien dan arsitek, sama-sama punya referensi.

"Jadi, cara mana yang paling tepat?"

Sebenarnya nggak ada yang benar atau salah. Setiap cara punya kelebihan dan risikonya masing-masing. Yang sering jadi masalah justru bukan di cara memilihnya, tapi di ketidakjelasan ekspektasi di awal. Mau pilih arsitek lewat open call, rekomendasi, atau riset sendiri, kalau kebutuhan, budget, dan preferensinya belum jelas, hasil akhirnya tetap bisa meleset.

Sebagai klien, sebelum memilih cara sebaiknya perjelas dulu, butuhnya apa, budget-nya berapa, prioritasnya di mana dan ekspektasinya seperti apa. Kalo udah ada itu semua, saya yakin proses memilih arsitek akan jadi jauh lebih terarah.

Memilih Itu Dua Arah

Tapi jangan lupa, proses memilih sebenarnya bukan cuma dilakukan klien, tapi juga dilakukan arsitek. Arsitek juga menilai apakah sebuah proyek dan kliennya cocok dengan cara kerja mereka. Misalnya, di kasus klien open call, kan ada juga arsitek yang nggak ikut drop portofolio. Mungkin mereka merasa nggak cocok di proyek itu.

Di beberapa kasus juga ada arsitek yang nggak menangani proyek dibawah luas dan budget tertentu. Ini berarti, arsitek juga menyeleksi kliennya. Sekilas ini mungkin terlihat seperti “pilih-pilih”. Tapi di sisi lain, ini juga bagian dari menjaga supaya proses desain tetap optimal, waktu dan energi bisa fokus dan hasil akhirnya sesuai dengan standar yang mereka pegang.

Jadi, memilih arsitek itu bukan soal siapa yang paling cepat atau paling murah, tapi soal menemukan kecocokan, dan kecocokan itu nggak bisa dipaksakan, harus datang dari dua arah.